• The Power of Tahi Kambing

    Ketika masih kecil, salah satu kegemaran saya adalah ikut ayah bepergian jauh keluar kampung.

    Masalahnya, saya punya satu kebiasaan yang cukup merepotkan: mabuk kendaraan.

    Setiap kali naik angkutan umum pasti mual dan muntah. Maklum, anak kampung.

    Suatu hari, ayah mendapat undangan dari kerabat yang tinggal jauh di sana. Putrinya akan menikah.

    Hari itu kami berangkat berenam: tiga orang dewasa—ayah saya dan dua adiknya (paman saya), serta tiga anak-anak, yaitu saya dan dua sepupu.

    Kami berangkat pagi-pagi sekali. Kalau perjalanan lancar, kami akan tiba menjelang maghrib. Perjalanan yang cukup jauh bagi anak-anak seusia kami.

    Namun sebelum meninggalkan kampung, kami mampir ke rumah seorang sesepuh yang dihormati. Sebut saja Pak Tua.

    Selain untuk berpamitan, ayah juga meminta doa dan nasihat untuk kelancaran perjalanan kami.

    Setelah mendengar maksud kedatangan kami, Pak Tua menuju ke bagian belakang rumah dan kembali dengan membawa beberapa butir kotoran kambing.

    Kotoran kambing tersebut kemudian dibungkus dengan plastik, seperti permen.

    Lalu ketiga bungkusan kecil itu diserahkan kepada ayah saya.

    “Ini untuk ketiga cucuku. Selama perjalanan, benda ini harus tetap dikantongi supaya tidak mabuk,” kata Pak Tua.

    Saya melongo.

    Ayah saya juga sepertinya sedikit terkejut.

    “Terima kasih, Pak. Sekarang kami pamit melanjutkan perjalanan,” jawab ayah.

    Kami pun berangkat.

    Dari senyum ayah, saya paham bahwa ayah menerima benda itu karena tidak ingin menyiinggung perasaan Pak Tua. Ayah saya sangat anti ha-hal berbau mistis.

    Maka berangkatlah kami dengan membawa “jimat” masing-masing dan tiba di tujuan menjelang maghrib.

    Yang menarik adalah, sepanjang perjalanan, saya dan sepupu sama sekali tidak muntah. Kecuali satu sepupu saya—sebut saja John—justru tetap muntah berkali-kali sampai semua isi perutnya keluar.

    Ayah John yang bajunya terkena muntahan pun bertanya dengan nada kesal.

    “Kenapa kamu muntah? Kamu taruh di mana tahi kambingnya?”

    John menggeleng.

    “Tadi si Uci bilang tahi kambingnya harus ditelan setelah tiba di tujuan. Jadi saya buang saja.”


    Apa sebenarnya yang terjadi?

    Mengapa saya dan seorang sepupu yang mengantongi tahi kambing tidak mabuk, sementara John yang tidak membawa tahi kambing malah muntah sepanjang perjalanan?

    Jawaban adalah karena kami yakin. John tidak yakin.

    Pak Tua telah berhasil memberikan sugesti kepada kami bahwa selama membawa benda itu, kami tidak akan mabuk kendaraan. Sementara John yang tidak menerima sugesti tersebut tetap mabuk.

    Dari kejadian tersebut saya belajar bertapa besar pengaruh keyakinan (percaya diri) terhadap keberhasilan kita.

    Namun satu hal yang baru saya pahami jauh setelah kejadian itu. Bahwa menjadikan benda tertentu sebagai jimat untuk memberi manfaat atau menolak mudarat, adalah musyrik. Dosa besar yang tidak terampuni.