
Sekira 2012, seorang teman asal Toraja mengundang saya untuk melihat tokonya yang berada di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ia membuka usaha biji kopi asli Toraja. Khusus kopi Toraja.
Selain menjual secara eceran, ia juga menyuplai biji kopi ke kafe-kafe dan warung kopi di Jakarta, bahkan hingga ke luar daerah.
Dari Bogor saya naik KRL, turun di Stasiun Kalibata, kemudian lanjut naik Metromini merah yang panas dan berdebu. Maklum, waktu itu armada TransJakarta masih sangat terbatas.
Setiba di Pasar Santa, saya dibuat takjub oleh banyaknya kedai kopi dan toko yang menjual biji kopi, baik green bean maupun roasted bean.
Bagi saya penikmat kopi seperti saya, tempat seperti ini tentu sangat menarik.
Sambil melihat-lihat dagangan dan mencicipi kopi Toraja manual brew alias tubruk, kami ngobrol ngalor-ngidul.
“Sudah berapa lama tinggal di Bogor?” tanyanya.
“Baru 12 tahun.”
“Itu bukan baru, tapi sudah lama. Tapi manaran sia mangbicara Toraja, to?”
“Haha… masak la dikalupai?”

Percakapan kecil itu kemudian membawa kami bercerita tentang banyak hal, termasuk bagaimana ia bisa membuka toko di Pasar Santa.
Menurut ceritanya, ia diajak oleh sesama pengusaha kopi dan pemilik kafe yang lebih dulu melihat peluang di tempat itu. Ia kemudian menyewa sebuah kios kecil, kira-kira hanya berukuran dua kali dua meter.
Saat itu harga sewanya masih relatif murah. Bagi pengusaha kecil seperti dirinya, biaya tersebut masih cukup masuk akal untuk memiliki toko fisik sekaligus memperkenalkan kopi Toraja kepada lebih banyak orang.

Pasar Santa sendiri memang pernah mengalami masa sepi atau mati suri. Namun perlahan suasananya berubah ketika komunitas pecinta kopi, anak-anak muda, dan berbagai komunitas kreatif mulai berdatangan. Kedai kopi, kuliner, toko musik, pakaian, barang vintage, hingga berbagai usaha kreatif bermunculan dan membuat Pasar Santa sempat menjadi salah satu tempat nongkrong cukup populer di Jakarta Selatan.
Sayangnya, cerita kemudian tidak selalu manis.
Harga sewa kios perlahan naik. Sebagian penyewa akhirnya memilih hengkang karena biaya operasional tidak lagi sebanding dengan pendapatan.
Teman saya pun mulai berpikir untuk menutup toko fisiknya, karena memang sebagian besar penjualannya datang dari internet.
Orang tidak harus datang ke Pasar Santa untuk membeli kopi Toraja. Pesanan bisa datang dari Jakarta, Bogor, bahkan dari luar daerah.
Namun bagi saya, keberadaan toko-toko kopi di Pasar Santa tetap punya daya tarik tersendiri.
Meski sudah tidak seramai masa keemasannya, Pasar Santa masih memiliki denyut kehidupan.

Bagi penikmat kopi seperti saya, deretan toko penjual roasted bean itu seperti menemukan hidden gem di tengah Jakarta.
Semacam surga kecil yang tidak terlalu banyak orang tahu.
Itulah sebabnya Pasar Santa kemudian menjadi tempat persinggahan saya setiap kali berada di Jakarta. Kebetulan, beberapa tujuan saya memang relatif tidak jauh dari sana.
Kadang saya datang bukan karena ada urusan khusus.
Cukup mampir.
Melihat-lihat.
Mencium aroma kopi.
Lalu pulang membawa sebungkus biji kopi 🙂