• Mengapa Saya Memilih Honda C-70?

    “Itu motor bisa sampai Bogor?”

    Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi entah kenapa, saya sudah cukup sering mendapat pertanyaan serupa sejak menggunakan Honda C-70.

    Beberapa waktu lalu, saat main ke rumah teman di wilayah Jaksel, ketika hendak pulang teman saya melihat motor Honda C-70 yang saya kendarai.

    Spontan dia bertanya,

    “Itu motor bisa sampai Bogor?”

    Saya jawab santai,

    “Insya Allah sampailah. Meskipun lebih lambat, hehe..”

    Memang begitulah Honda C-70 saya. Kalau dibandingkan motor-motor sekarang, mungkin dia bukan kendaraan yang bisa dibanggakan soal kecepatan.

    Tapi toh, sampai sekarang masih bisa membawa saya pulang-pergi Bogor–Jakarta.

    Melintasi 3 provinsi (Jawa Barat-Banten-DKI Jakarta), dengan motor 3 speed.

    Banyak orang heran dan bertanya, kenapa harus Honda C-70?

    Kenapa harus motor tua?

    Di zaman ketika motor semakin canggih, fitur semakin banyak, dan motor matic semakin berseliweran di jalan, saya malah memilih kendaraan yang teknologinya sudah ketinggalan zaman.

    Zaman semakin maju, kok malah kembali ke zaman batu?

    Benar-benar aneh.

    “Ceritanya panjang,” adalah jawaban default saya setiap kali mendapat pertanyaan serupa.

    Sebenarnya itu cuma basa-basi untuk menutup pertanyaan berikutnya. Kalau saya jawab panjang lebar, bisa-bisa obrolannya malah berubah menjadi seminar tentang alasan memilih motor tua.

    Kadang saya juga bercanda,

    “Yah… mau gimana lagi? Saat ini saya cuma mampu beli motor tua!?”

    Padahal, tentu saja bukan itu alasannya.

    Kenapa Honda C-70?

    Nah, di sini saya akan menguraikan beberapa alasan saya memilih Honda C-70 di tengah gempuran motor-motor matic yang canggih dengan segudang fitur modern.

    Pertama, karena saya memang suka barang-barang vintage.

    Selain sepeda motor, jam tangan yang saya pakai pun usianya lebih tua dari saya.

    Entah kenapa saya memang punya ketertarikan sendiri terhadap barang-barang tua. Ada sesuatu yang menarik dari benda yang sudah melewati zaman tetapi masih bisa digunakan.

    Bagi sebagian orang mungkin terlihat kuno.

    Bagi saya, justru menarik.

    Kedua, saya suka sesuatu yang sederhana.

    Simple. Gak neko-neko.

    Honda C-70 tidak punya banyak fitur yang harus dipelajari. Tidak ada macam-macam tombol, layar digital, atau teknologi yang membuat kita sibuk memperhatikan motor.

    Naik, hidupkan mesin, masukkan gigi, lalu tarik gas. Jalan.

    Sederhana.

    Dan mungkin, di tengah kehidupan yang semakin ribet, sesuatu yang sederhana justru terasa menyenangkan.

    Ketiga, saya memang ingin melambat.

    Sebelumnya saya terbiasa menggunakan motor matic. Tinggal gas, motor melaju, dan kadang tanpa sadar ngebut yang tentu saja berbahaya.

    Setelah beralih ke Honda C-70, saya seperti dipaksa untuk mengubah kebiasaan.

    Motor ini tidak mengajak saya untuk ngebut.

    Dia seperti berkata,

    “Santai saja. Kita tidak sedang mengejar siapa-siapa.”

    Jadi, kalau boleh dibilang, saya memang sengaja beralih dari motor matic ke Honda C-70 untuk menghukum diri sendiri.

    Yang biasanya ngebut, sekarang dipaksa melambat.

    Dan ternyata, gak ada masalah.

    Tapi Motor Tua Itu Merepotkan

    Setelah lebih dari setahun menggunakan Honda C-70, tentu saja saya mengalami banyak kejadian yang cukup merepotkan.

    Namanya juga motor tua.

    Kadang tiba-tiba mogok gara-gara busi kotor.

    Pernah juga mogok karena businya kena air ketika kehujanan.

    Ada lagi cerita yang lebih konyol.

    Pernah suatu ketika motor mogok karena kehabisan bensin dan saya tidak mengetahuinya.

    Maklum, Honda C-70 saya tidak punya indikator bensin.

    Makanya, SOP sebelum naik motor Honda C-70, langkah pertama adalah buka jok dan cek tangki bensin.

    Anak saya pernah berkomentar,

    “Beli motor tua adalah tutorial nyusahin diri sendiri.”

    Saya tidak bisa membantah.

    Benar.

    Bahkan saya pikir kalimat itu cukup tepat menggambarkan pengalaman memiliki motor tua.

    Kalau gak mau repot dan gak sabaran, jangan coba-coba beli motor tua.

    Tapi anehnya…

    Setiap kali Honda C-70 itu kembali hidup setelah mogok, setelah selesai dibersihkan, atau setelah saya utak-atik sedikit dan akhirnya bisa berjalan normal lagi, ada rasa puas yang tidak saya dapatkan ketika menggunakan motor yang serba otomatis.

    Mungkin karena dengan motor tua, kita tidak hanya menjadi pengendara.

    Kita sedikit banyak ikut mengenal motornya.

    Dan mungkin itu salah satu alasan kenapa, meskipun sering merepotkan, sampai hari ini saya masih memilih Honda C-70.